Minggu, 26 April 2015

Lucunya liga super di Insomnia

Dua pekan lalu saya sudah berujar tentang olahraga terjang bola di Insomnia. Dari hasil mengontak seorang kawan dengan alat komunikasi khusus yang saya ciptakan ada beberapa yang bisa saya kabarkan. Baca saja sini: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2015/04/14/kisah-kisruh-bola-insomnia-712250.html.
Rupanya pak menpora telah membekukan PTI karena memang betul-betul dikelola orang sableng. Menpora menanyakan apa, eh dijawab dengan yang tak berhubungan. Di kasih SP malah PTI jalan terus. Akhirnya geraha, dibekukan deh.
Tapi PTI sok tak ngaruh. Dengan pongah mereka menjamin kompetisinya bakal tetap jalan tanpa persetujuan menpora sekalipun. Mereka lupa kalau mereka tinggal di Insomnia. Mereka cuma bilang akan tunduk apa kata PIPA. Masalahnya kalau ada kerusuhan yang urus PIPA atau polisi? Polisi kan!! Nah polisi itu bagian dari Insomnia atau PIPA? Lah polisi yang ngerti hukum tentu tak beri izin gelaran pertandingan.
PTI kira polisi masih sama seperti era presiden labil di era sebelum ganti kekuasaan dulu. Dikiranya mereka bisa seenaknya. Lah sekarang mah beda. Kaki tangan ketua PTI anyar terpilih yang nabok ketua Perseyaba asli langsung dibui dan tak dibiarkan jadi infektan masyarakat. Boro-boro kasih izin PTI meraja di masyarakat, sekadar pembiaran saja tak diberi kali ini.
PTI pun kalah dua kali. Setelah dibekukan, kini tak diizinkan main. Nah sekarang PTI coba menerapkan jurus ketiga: meracuni pikiran sehat insan persepakbolaan yang tersudut dengan larangan pertandingan.
PTI berlindung dengan dalih rusaknya pendapatan masyarakat kecil disekeliling stadion manakala kompetisi berhenti. Padahal masyarakat yang dimaksud hanya berjualan sekitar 17 kali sepanjang tahuin (sejumlah partai kandang di kota tersebut). Mereka mengajak para pedagang kecil memusuhi menpora, padahal pedagang kecil tersebut toh tetap berjualan kapan pun di manapun (ingat mereka makan 3 kali 365 hari dalam setahun yang artinya tak hanya tergantung 17 hari jualan di stadion).
PTI juga meracuni klub dengan pikiran kompetisi tak jalan jadi klub tak akan punya uang. Padahal menpora punya planing tetap menggulirkan liga, tapi tak di bawah PTI saja. Ajaibnya para klub ini bersatu mendukung PTI. Padahal kala kompetisi bergulir sebagian besar dari klub itu akan dizalimi lewat permainan wasit kiriman PTI yang kerap mengubah hasil akhir lewat “penalti” seperti laga Amera versus Perjasi yang berakhir 4-4 di pembuka liga musim ini. Kelak kalau hasil baik mereka dirampok sebagaimana biasa barulah klub ini sadar kalau mereka dimanfaatkan.
Klub juga diajak menyuarakan kerugian atas gagalnya pertandingan mereka yang tak dapat izin kepolisian. Tim kandang rugi persiapan penyelenggaraan; klub bertandang rugi di ongkos transportasi dan penginapan. Padahal yang bodoh mereka sendiri. Sudah jelas PTI dibekukan, izin polisi tak ada’ kenapa juga tetap ngotor bertanding dan datang.
Kalau masalahnya kompetisi. Wis tenang sebentar, menpora juga tak akan merugikan sejauh itu. Pasti kompetisi digelar juga, tapi penyelenggaranya bukan PTI, itu saja.
PTI juga meracuni fans dengan ultimatumnya bahwa kompetisi musim ini bakal ditiadakan kalau menpora dan polisi tak mengizinkan. Fans diharapkan takut tak punya hiburan dan mendemo menpora. Fans ini dibutakan dengan ajakan menggelar terjang bola murni, olahraga tanpa politisasi sementara PTI main belakang dengan politisasi.
Jikminia yang suporter Perjasi malah ngotot dukung PTI melawan menpora. Mereka lupa kalau Perjasi mereka kerap menunggak gaji pemainnya namun dianggap angin PTI dengan cap profesional. Jikminia lupa kalau selain permainan bola semata mereka juga perlu memuliakan pemainnya. Mereka mendukung gelaran liga tanpa supervisi profesional.
Suporter timnas juga ditakut-takuti dengan suspensi laga internasional yang akan terjadi di masa sangsi PIPA. Padahal timnas mau main dan prestasi ajang apaan sih dalam waktu dekat? Di masa nyaman saja gak bisa berprestasi kok.
Terakhir PTI meracuni para pemain untuk ikut bersuara di media perihal ketakjelasan kompetisi yang mengkhawatirkan mereka. Di sini kita bingung. Bukankah mereka pemain profesional yang punya kontrak tentang gaji. Harusnya dimundurkan setahun satu selama apapun mereka tetap aman karena toh pembayaran mereka tetap. Tanding atau tidak kan dalam rentang waktu dalam kontrak mereka tatap diurus klub, mengapa takut?
Nah ini membuka beberapa kemungkinan. Pertama, para pemain memang tak punya kontrak profesional. Kedua, mereka tak paham isi kontrak dan rela saja dirugikan. Ketiga, melihat yang sudah-sudah mereka menebak kontrak tak akan dibayarkan. Keempat, maju ke pengadilan pun tak akan membuat klub memenuhi kontrak dengan alasan penghentian kompetisi.
Sejauh ini skor sudah 2-0. PTI makin terpojok. Kita tunggu saja kelanjutan laga ini yang akan berakhir bila salah satunya terlucuti tanpa daya.
Sekian cerita kawan saya dari Insomnia. Di negeri saya semoga klub-klubnya tak setolol klub di Insomnia yang mau kamikaze hanya karena 2 klub bermasalah. Saran saya buat persepakbolaan Insomnia: Tinggalkan 2 klub itu dan jalan terus; atau sembuhkan dulu 2 klub itu dan lanjutkan kompetisi tapi tetap tanpa PTI.

Kompasiana 27 April 2015 | 08:20 

Senin, 13 April 2015

Kisah Kisruh Bola Insomnia

Ada sebuah cerita, tentang olahraga di dunia lain. Sebut saja namanya terjangbola. Cabang olahraga ini sungguh diminati di planet itu. Setiap terjangbola digelar piala dunianya seisi planet akan bersemangat. Negara-negara berprestasi di cabor terjangbola selalu sukses menjadi hiburan makluk planet di dunia lain ini.
Cabor terjangbola ini juga punya asosiasi yang menjadi wadah pengembangannya demi keteraturan seluruh stakeholdernya. Baik pemilik klub, atlet, pelatif, ofisial, wasit, fans, bahkan negara-negara difasilitasi di dalamnya. Asosiasi bernama PIPA itu sungguhlah hebat dan ketat dalam menjalankan aturan mereka. Saking mendunianya PIPA, bahkan pemerintah negara-negara di planet ini tak diperkenankan mengganggu afiliasi dari PIPA ini di setiap negara. Tujuan utamanya adalah demi fair play dan tentu saja kemurnian cabor itu sendiri yang diharapkan jauh dari isu politis.
Kehebohan terjangbola kemudian sampai dan juga bergaung di negeri berpenduduk banyak namun miskin prestasi cabor ini bernama Insomnia. Warganya yang sudah banyak beban pikiran kerap terhibur dengan aksi terjangbola di televisi. Warga Insomnia yang rata-rata sumbu pendek ini kerap makin bersemangat bilamana isu kedaerahan dijadikan bumbu kompetisi terjangbola di negerimereka. Walau Insomnia lama tak punya prestasi di sekup region, dipinggirkan di sekup interkontinental, bahkan tak dihitung di level dunia; terjangbola tetap dianggap sebuah cabor bergengsi di negeri ini.
Adalah Persatuan Terjangbola Insomnia (PTI) yang merupakan afiliasi PIPA yang mengelola terjangbola di Insomnia. Awalnya asosiasi ini biasa saja dan tak terlalu bergengsi untuk diperebutkan kepengurusannya. Jangankan secara keanggotaan PIPA, di Insomnia ketua PTI juga tak ramai kalau sedang ada pemilihan ketuanya. Namun lambat laun PTI berhasil mengemas terjangbola di Insomnia lebih menarik, terutama memelihara fanatisme daerah yang jadi sajian menarik dalam kompetisi.
Cerita punya cerita PTI kemudian menjalankan kompetisi dengan sedikit penyimpangan. Karena beberapa pengurusnya memiliki kepentingan lain di terjangbola, kompetisi yang tadinya seru mulai banyak pelanggarannya. Ada pengurus PTI yang juga pemilik klub di kompetisi, tentuny ada hal-hal tak sepantasnya yang bisa dimanfaatkan demi kemajuan klubnya. Ada pengurus yang bermain mata dengan bandar judi skor terjangbola. Ada pula pengurus yang memanfaatkan terjangbola demi popularitas politik menjelang pemilu di Insomnia.
Kompetisi yang jadi jalan utama membentuk timnas terjangbola jadinya amburadul. Beberapa klub pesertanya berprestasi karena kerap dibantu wasit lewat hadiah penalti semata. Imbasnya, kala main di level internasional klub ini diganyang lawan yang biasa berprestasi dalam persaingan kualitas tingkat tinggi. Klub yang punya dana minim difasilitasi ikut dalam kompetisi yang katanya profesional banyak terjadi. Niatnya mungkin bisa saja dikatakan baik, namun manakala klub gagal membayar gaji atlet, pengurus PTI tak ambil pusing dan menyerahkan semua kembali pada klub untuk menyelesaikan tunggakan gaji pemainnya. Tak ada hukuman buat pengurus klub yang gagal membayar tadi. Boro-boro dihukum, pengurus tadi malah difasilitasi untuk mengikuti kompetisi tahun berikutnya.
Kabar angin di Insomnia, para pengurus klub ternyata banyak berasal dari pimpinan daerah asal klub tersebut. Dalam banyak cerita yang beredar, APBD  banyak dimainkan dengan dalih pada pembinaan klub terjangbola daerah tersebut. Main di sini main di sana, pokoknya terjangbola kini benar-benar menggemaskan.
Tonton saja satu laga, kerap ramai dengan hinaan rasial fans yang tak pernah diambil pusing PTI yang harusnya mengikuti PIPA dalam hal menolak rasisme. Pemain yang merasa punya nama beken bisa sesukanya melawan wasit dan tak dihukum berat oleh PTI. Banyak lagi deh kisah durjana di terjangbola Insomnia.
Gerakan perlawanan pun muncul. Dalam pemilihan pengurus PTI calon di luar pengurus selama ini mendaftar. Tapi PTI tentu sadar besar nilai mereka dan berjuang untuk tak tergantikan. Namun arus besar reformasi bergaung dan pengurus PTI lama digusur. PTI Reformasi pun resmi mengelola terjangbola Insomnia.
Tapi, dasar anak baru. PTI Reformasi rupanya gagal memahami peta kekuatan di Insomnia. Beberapa kebijakannya membuat gerah klub-klub berbasis fans besar. Klub-klub yang sudah muak dengan PTI korup sebelumnya itu kemudian unjuk gigi untuk memperingatkan PTI Reformasi untuk tidak sporadis melakukan revolusi. Bagi mereka evolusi yang smooth lebih nyaman untuk memulai era baru terjangbola Insomnia. Akibatnya dua kompetisi pun berjalan secara tidak wajar di Insomnia.
Keributan kecil antara PTI Reformasi dengan Klub-klub tadi dimanfaatkan PTI lama untuk kembali. PTI Reformasi kemudian digulung dalam sebuah kongres. Walau ketuanya tetap dari PTI Reformasi, namun seluruh stafnya diganti oleh rezim pengurus PTI lama yang telah kembali bercokol.
PTI yang kembali diurus rezim yang lama kemudian juga mendepak klub-klub yang mendukung PTI Reformasi dulu. Klub bernama Kontra Duta yang menjadi pemenang dalam turnamen menuju persatuan liga kemudian ditolak masuk liga utama. Klub bernama sama yang lahir dalam dualisme kompetisi kemudian dilebur dengan keuntungan bagi pihak pendukung PTI lama tentunya. Hal ini kemudian menyakiti klub Perseyaba yang kemudian turut digusur sebagaimana Kontra Duta.
Perseyaba ini secara historis adalah klub berprestasi di terjangbola Insomnia. Basis fansnya besar dan terkenal dengan nama Kenob. Salahnya adalah karena mereka berkompetisi di liga PTI Reformasi semasa dualisme kompetisi. Di masa itu pengurus PTI lama menciptakan klub siluman bernama Perseyaba juga untuk mengikuti liga perlawanan mereka. Ironisnya lagi, presiden klub Perseyaba antah-berantah malah jadi wakil ketua PTI hasil kongers terakhir yang mengembalikan pengurus PTI lama ke PTI. Jadilah Perseyaba asli dimatikan walau punya sejarah besar dan Perseyaba kloning baru berdiri berjajar dengan klub-klub besar di kompetisi terjangbola Insomnia.
Beda cerita di kenegaraan, terjadi perubahan pemerintahan di Insomnia. Menpora pemerintahan sebelumnya yang cuma caretaker dan sukses mengembalikan pengurus lama ke PTI sudah diganti (menpora asli awalnya adalah pejuang jantan yang ingin mereformasi PTI juga namun terlibat kasus korupsi yang kabarnya hanya kriminalisasi). Menpora baru ini menuntut isu “profesional” yang dibawa PTI kini. Organisasi oalhraga profesional bernama POPI pun dibentuk. Hasilnya peserta kompetisi yang gemuk jumlahnya dipangkas jadi 18 klub. Kemuadian 18 klub ini diseleksi lagi dengan rekomendasi menggugurkan dua klub yang salah satunya adalah Perseyaba kloningan tadi.
Tapi PTI merasa heboh sendiri. Dengan dasar pikiran kekuatan mereka yang dibiarkan pemerintah sebelumnya merajalela, PTI nyaman saja membiarkan Perseyaba kloningan dan Amera ikut di musim kompetisi terbaru.Padahal kedua klub ini dicekal karena masalah kepemilikan klub yang belum jelas selepas peleburan dualisme liga dan dualisme klub.
Sesungguhnya Kenobmania yang jadi basis fans Perseyaba asli memahami hal ini. Mereka mendukung pembekuan Perseyaba kloningan karena pada umumnya tahu mana Perseyaba yang harus didukung di terjangbola Insomnia. Munculnya protes atas kebijakan POPI oleh Kenobmania diduga hanya segelitir sosok pasukan nasi bungkus semata. Lalu bagaimana dengan Amera yang juga dicekal? Beda dengan Kenobmania, Amerania yang jadi pendukung Amera tak terlalu menggubris siapa pengurus klub asli atau kloningan. Tadinya Amera asli adalah yang turut di liga PTI Reformasi, namun karena tak berprestasi Amerania pindah mendukung Amera kloningan yang main di liga tandingan era dualisme kompetisi hingga kini. Bagi Amerania mungkin semuanya sederhana. Tak peduli siapa pengurusnya, selama Amera punya prestasi itu akan didukung jadi hiburan mereka (pure feel saja).
Menpora yang saat ini ternyata beda dengan caretaker menpora sebelumnya. Interfensi siap dilakukan manakala PTI tak menjalankan prinsip profesionalisme. Tentu saja karena negara tak boleh kalah sama mafia bukan? PTI pun mencoba berlindung di bawah ketiak PIPA. Surat ancaman PIPA pun turun walau kita juga bingung kenapa PIPA malah mendukung PTI yang jelas tidak profesional. Tapi Menpora Insomnia sepertinya tidak takut. Banded dari PIPA sekalipun bukan berarti neraka. Toh tak ada agenda internasional penting terjangbola yang akan membuat Insominia kehilangan momentum juara wong prestasi saja tak ada.
Menpora sepertinya lebih berani dan sadar dengan pikiran sehat untuk melakukan operasi besar demi terjangbola Insomnia yang lebih baik. Ribut-ribut PTI kali ini bisa jadi jalan tepat membasmi mafia terjangbola yang sudah seperti kanker. Tak apa dikucilkan sementara dari PIPA supaya para mafia yang jadi kangker lenyap dulu untuk kemudian membangun kembali semua dari nol dan jelas ternetralisir dari virus.
Semoga niat baik Menpora Insomnia ini bisa dipahami rakyat. Semoga rakyat tak mau dipanas-panasi segelintir pasukan nasi bungkus keluaran mafia bola di Insomnia yang punya kekuatan uang besar tentunya.
Well, itulah yang saya dengar terjadi di Insomnia dalam perjalanan saya menembus ruang dan waktu. Salam untuk Menpora Insomnia. Semoga cerita yang sama terjadi di negeri penulis dan pembaca tercerahkan dengan kemungkinan ini bila mana terjadi di negeri ini.
Semoga tak salah post yah, walau ini fiksi tapi karena ada kata “bola” maka enaknya saya post di forum olahraga……

Kompasiana 14 April 2015 | 07:46

Substansi Ketimbang Kemasan

Selasa lalu seorang siswi kelas XI TMM meledak karena "diisengi" kawannya di waktu yang tak pas. Di depan saya-guru bahasanya-sang siswi mengucapkan kata2 yang tak senonoh menurut kawan2nya.
Saat beberapa siswa iseng menuntut "keadilan" pada ucapan siswi tadi, tapi ini tanggapan saya: Tak ada yang salah dengan ucapan siswi tadi, justru dia sudah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
"Baik" karena bahasanya sesuai kaidah. Dalam pelajaran bahasa di sekolah kita mengenal sarkasme sebagai sebuah gaya bahasa. Kaidah kebahasaannya tak salah walau menyebut nama hewan atau kotoran karena ujaran seperti itu tak salah. Posisi adanya unsur predikatif sebagai sebuah syarat awal sebuah kalimat sudah terpenuhi.
Berikutnya adalah soal "benar". Berbahasa Indonesia yang benar artinya sesuai konteks. Maka manakala dalam konteks pembicaraan di mana si pengujar harus bersarkasme semua tak salah. Ini hanya masalah elegan atau tidak.
Dalam konteks bertemu dengan begal di jalan misalnya: atau kita hendak melampiaskan kekesalan kita dengan pengemudi ugal-ugalan, apakah perlu eufemisme atau penghalusan kata? Dalam konteks perkelahian atau kejengahan tindak sarkasme adalah hal yang tak salah. Semua hanya masalah elegan atau tidak, namun substansinya yang utama. Kala kita meneriakkan nama2 hewan dalam konteks dibully dan kita melawan dengan sarkasme itu hal yang tidak salah tempat.
Singkatnya saya tak menyalahkan siswi saya yang terpaksa bersarkasme untuk menunjukkan emosinya karena mungkin "tak biasa" atau sedang "PMS"-bisa saja kan-saat diisengi kawannya. Saya justru tetap menyoroti pelaku keisengan untuk ditindak, karena bahasa "keras" sang siswi tak mengapus hal substansia yang lebih penting saya hakimi sebagai guru: membenahi perilaku jahil.
Seolah bertalian dengan cerita saya, Jumat lalu saya menonton aksi Ahok dengan Aiman di Youtube. Jelas sekali saya setuju dengan segala urai sang gubernur untuk menyentil para perusak negeri ini yang merupakan tikus-tikus berdasi.
Walau beberapa kali ada nada "tut" di video itu, saya tahu hal itu tak masalah dan tidak juiga mengurangi substansi ujaran dan informasi yang diurai. Soal tidak elegan yang mirip aksi siswi saya tadi tak membuat saya kehilangan substansi pada apa yang benar ataupun salah.
Namun menonton di Youtube karena terlewat tayangan langsung di Kompas TV memang punya sedikit perbedaan rasa.
Yang lucu adalah uraian Tantowi Yahya di TV One malam ini. Yang diributkan adalah bahasa Ahok dan bukan substansi masalahnya.
Ekspresenter yang tadinya kiblat publik speaking saya itu rasanya sudah jauh berubah. Dia kini buat saya bak sebagai seorang aktor di duniab nyata. Entah saya yang salah atau mungkin ada yang merasakan hal sama, sejak masuk dunia politik pria satu ini seakan memerankan seorang tokoh antagonis sinetron tapi dilakukan di dunia nyata. Dalam pelbagai kegiatan kehumasannya dia seperti rela perperan sebagai penyerang, walau tak punya amunisi apapun. Dalam beberapa kesempatan dia seperti seorang yang tahu kalau yang dibicarakannya salah dan tak substantif tapi dilakukan juga karena mungkin dah terlajur teken kontrak dengan perannya. Dan itulah yang baru terjadi.
Tantowi dan narasumber satunya persis murid saya yang sengaja cari kesalahan berbahasa Ahok dalam wawancara eksklusif dengan Aiman waktu kemarin. Seakan mereka bukan orang pintar yang bisa memahami substansi masalah bahwa Ahok sedang memberikan pencerahan pada kita tentang bagaimana caranya mafia anggaran telah membodohi kita selama bertahun-tahun. Buat mereka seakan Ahok hanya pengujar kebusukan yang akan memberi contoh buruk anak2 lewat bahasa kasarnya.
Well, mungkin karena posisi mereka bersebrangan dan tentu ada "peran" yang terlanjur diteken kontrak.
Bicara soal munafik, Ahok bahkan tak merespons cengeng manakala dihujat "Cina bangsat" waktu lalu. Dia juga sadar konteks emosional sidang dewan dan hanya menyerap hinaan itu dengan canda pahit. Toh dia juga sadar kalau dia sekalipun bisa berkata sama manakala ditekan emosi.
Saya sadar tindakan pembelaan saya pada siswi saya yang berkalimat tak elegan memang tak sepenuhnya benar. Namun tanpa memberi pengertian lebih lanjut murid2 saya yang lain mengerti maksud saya dan tersenyum2 malu karena mereka tahu substansi benar-salah dan kenapa saya membenarkan siswi tadi. Pun soal Ahok. Dalam kondisi nyata siswa-siswi saya yang juga saya mintai pendapat soal wawancara Ahok juga mengerti arah pembicaraan yang ditonton dan hanya geleng2 dengan kenyataan yang dikuak. Soal kata2 kasar sang Gubernur, saya tetap heran karena murid remaja saya saja tahu bukan itu substansinya, tapi kenapa masih saja ada yang mempermasalahkan.
Okelah, saya hanya orang kecil yang mencoba bersuara. Kita saksikan saja kelanjutan cerita bangsa kita Indonesia, merdeka.

Notes Facebook 22 March 2015 at 00:39

Menanti Geliat Juve Demi Serie A

Baru saja rasa iseng membuai diri pada geliat lama saat remaja dulu. Kala kejenuhan melanda diri maka Youtube jadi sarana hiburan tersendiri untuk membiarkan putaran video pilihan mencerahkan diri.
Kali ini tiba-tiba ada tautan video Batistuta yang menggoda untuk saya klik. Buffer berjalan dan saya menikmati 10 gol terbaik dari sang dewa gol. Tiba-tiba saya ingat akan gairah sepakbola masa remaja dulu yang kerap bertaut dengan guliran Seri A.
Video Batistuta itu mengingatkan saya akan gemerlap Serie A di era 90-an dan awal 2000-an. Tak terasa era itu sudah jauh tertinggal. Kini Serie A yang bisa tayang 2-3 laga per pekan di Kompas TV terasa tak segemerlap dulu kala RCTI hanya menayangkan bahkan satu laga saja per pekannya. Entah karena akses informasi yang sudah sedemikian canggihkah yang membuat rasa dahaga hiburan Serie A sirna ataukah semata minimnya bintang di Italia yang buat mata malas melirik dibanding dulu.
Saya adalah seorang LAziale yang memang masih memantau pergerakan Lazio dari setiap media. Terlepas dari kekuatan “semenjana” Biancoceleste saat ini, tapi gairah menikmati Serie A terasa meredup dari pekan ke pekan. Bila tak ada laga Lazio baiknya saya lewatkan tayangan Serie A tuk saat ini. Pun bila Lazio main subuh WIB, rasanya lebih baik menanti skornya saja di berita pagi hari ketimbang begadang menanti aksi.
Mungkin saya sudah kehilangan gairah selepas masa remaja berganti pada dewasa. Namun kaum muda di sisi saya jua sudah tak lagi menikmati Serie A.
Di awal era 2000, kala Winning Eleven masih banyak dimainkan di rental PS 1, tim pilihan para player umumnya tak lepas dari magnificent seven sister Serie A. Bahkan pemain pujaan jua tak jauh dari punggawa Serie A. Namun selepas Calciopoli Serie A benar-benar tersungkur. Terakhir selepas era Mourinho mengukir treble di 2010 lalu kemudian hijrah ke Madrid rasanya Serie A sungguh tak menarik.
Juventus yang memulai momen meraja kembali tak kunjung bisa memberi tusukan untuk Eropa. Milan dan Inter seperti tenggelam dalam usaha membangun tim yang kerap merana. Roma yang jadi pesaing perburuan scudeto cuma bisa tampil oke di ranah lokal. Lazio saya juga kerap rusak prestasinya bila berkompetisi di tiga turnamen dalam semusim. Fiorentina timbul-tenggelam. Napoli atau Udinese juga tak memesona Erop apalagi dunia. Terakhir Parma kini malah sedang di ujung kebangkrutan.
Serie A, bagaimana nasibmu nanti yah….
Malam nanti Juventus akan berlaga jadi wakil Italia semata wayang di kompetisi tertinggi Eropa. Lawannya adalah Dortmund yang baru bangkit dari keterpurukan. Mari kita nanti geliat Juve demi gengsi Serie A. Kondisi 5 tim Italia di 32 besar Liga Eropa sendiri tentu bukan kebanggaan.
Mari simak aksi Tevez dan Llorente di kandang malam ini. Semoga bisa jadi penyemangat Torino, Inter, Napoli, Fiorentina, dan Roma yang akan mempertaruhkan asa di Liga Eropa esok malam.

Kompasiana 24 February 2015 | 15:42

Kamis, 27 November 2014

Surat untuk Ibu dan Bapak Guru Dari Mendikbud Anies Baswedan

Surat untuk Ibu dan Bapak Guru
Dari Mendikbud Anies Baswedan

Ibu dan Bapak Guru yang saya hormati dan muliakan,

Semoga Ibu dan Bapak Guru dalam keadaan sehat, bahagia, dan penuh semangat saat surat ini menemui Ibu dan Bapak sekalian. Seiring dengan peringatan Hari Guru ini, atas nama pemerintah, saya menyampaikan apresiasi kepada Ibu dan Bapak Guru semua yang telah mengemban tugas mulia serta mengabdi dengan hati dan sepenuh hati. Izinkan saya dengan rendah hati menyampaikan rasa hormat, rasa terima kasih, dan rasa bangga atas pengabdian Ibu dan Bapak sekalian.

Menjadi guru bukanlah pengorbanan. Menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Ibu dan Bapak Guru telah memilih jalan terhormat, memilih hadir bersama anak-anak kita, bersama para pemilik masa depan Indonesia. Ibu dan Bapak Guru telah mewakili kita semua menyiapkan masa depan Indonesia. Mewakili seluruh bangsa hadir di kelas, di lapangan, bahkan sebagian harus mengabdi dengan fasilitas ala kadarnya demi mencerahkan dan membuat masa depan yang lebih baik untuk anak-anak kita. Saya ingin menggarisbawahi bahwa persiapan masa depan bangsa dan negara Indonesia ini dititipkan pada Ibu dan Bapak Guru.

Saya menyadari masih banyak tanggung-jawab pemerintah pada Guru yang belum ditunaikan dengan tuntas. Kita harus mengakui bahwa bangsa ini belum menempatkan guru sebagaimana seharusnya. Guru memiliki peran yang amat mulia dan amat strategis. Saya percaya bahwa cara kita memperlakukan guru hari ini adalah cermin cara kita memperlakukan persiapan masa depan bangsa ini. Kita harus mengubah diri, kita harus meninggikan dan memuliakan guru. 

Pemerintah di semua level harus menempatkan guru dengan sebaik-baiknya dan menunaikan secara tuntas semua kewajibannya bagi guru. Pekerjaan rumah pemerintah, di semua level masih banyak, mulai dari masalah status kepegawaian, kesejahteraan, serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan guru harus dituntaskan.

Meskipun demikian, di balik semua permasalahan yang ada, pendidikan harus tetap berjalan dengan baik. Di pundak Guru, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, ada wajah masa depan kita. Setiap hari Ibu dan Bapak Guru menemui wajah masa depan Indonesia, dan di ruang-ruang kelas itulah anak-anak bersiap bukan saja untuk menyongsong tetapi juga untuk memenangkan masa depan.

Hari-hari di depan kelas tentu menyedot energi. Anak-anak yang menuntut perhatian, tugas-tugas Guru yang menumpuk, masih banyak ruang kelas yang tak memadai, fasilitas belajar yang ala kadarnya, atau suhu udara yang tidak selalu bersahabat. 

Ibu dan bapak guru yang saya hormati.

Teruslah hadir membawa senyum; berbekal kerahiman, songsonglah anak-anak bangsa ini dengan kasih sayang; hadirlah dengan hati dan sepenuh hati.

Kita semua sadar bahwa pendidikan adalah ikhtiar fundamental dan kunci untuk kita dapat memajukan bangsa. Potensi besar di Republik ini akan dapat dikembangkan jika manusianya terkembangkan dan terbangunkan. Kualitas manusia adalah hulunya kemajuan dan pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam meningkatkan kualitas manusia.

Pada kesempatan ini saya mengajak kita semua untuk melihat pendidikan bukan semata-mata urusan negara, urusan pemerintah. Tanpa mengurangi peran negara, karena negara masih harus menyelesaikan tanggung-jawab yang belum tuntas dan meningkatkan kinerjanya, saya mengajak semua warga bangsa Indonesia untuk ikut bekerja sama demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Ya, secara konstitusional mendidik adalah tanggung jawab negara, tetapi secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik.

Saya mengajak semua kalangan, mari terlibat untuk membantu sekolah, guru, madrasah, balai belajar, dan taman belajar. Kita terlibat untuk mendorong kemajuan pendidikan. Untuk itu pula, kepada Guru, Kepala Sekolah, dan Tenaga Kependidikan mari kita bukakan pintu lebar-lebar. Kita mengajak dan memberi ruang kepada masyarakat untuk ikut terlibat,  memikirkan, dan berbuat untuk kemajuan dunia pendidikan kita.

Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan,

Potret Indonesia hari ini adalah potret hasil dunia pendidikan di masa lalu. Potret dunia pendidikan hari ini adalah potret Indonesia masa depan. Jadikan rumah kita dan sekolah kita menjadi zona berkarakter mulia. 

Izinkan anak-anak kita merasakan rumah yang membawa nilai kejujuran. Izinkan anak-anak kita merasakan sekolah yang guru-gurunya adalah teladan. Biarkan anak-anak kita mengingat Kepala Sekolahnya dan seluruh Tenaga Kependidikan di sekolahnya sebagai figur-figur bersih dan terpuji karakternya.

Bayangkan Ibu dan Bapak Guru yang terhormat, kelak anak-anak kita akan hidup di era baru. Mereka hidup di era yang korupsi sudah dianggap sebagai sesuatu yang basi, sesuatu yang bukan lagi kelaziman, dan tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan pelanggaran hukum, tetapi lebih dari itu korupsi menyangkut persoalan harkat dan martabat kemanusiaan.

Pada suatu saat, ketika anak-anak kita, murid-murid itu telah dewasa dan berkiprah di dalam masyarakat, mereka kelak bisa bertutur, "Saya belajar jujur, dan belajar integritas dari Guru". Seraya, nama Ibu/Bapak Guru disebut. 

Ibu dan Bapak Guru mungkin saja tidak mendengar langsung ucapan-ucapan itu, tetapi yakinlah bahwa melalui anak didik yang meneladani Ibu/Bapak Guru itulah aliran pahala untuk Ibu dan Bapak tidak akan pernah berhenti. Pahala yang tiada henti-hentinya melalui anak-anak didik yang menjadi manusia berkarakter mulia, yang menjalani hidup dengan kejujuran dan berintegritas.

Karakter memang tidak cukup diajarkan melalui lisan dan tulisan. Karakter diajarkan melalui teladan. Oleh karena itu, Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan, jadilah figur-figur yang diteladani oleh murid-murid dan lingkungannya.

Akhirnya, kepada seluruh Guru, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, saya sampaikan apresiasi. Sekali lagi, atas nama pemerintah, saya sampaikan terima kasih. Ikhtiar mulia ini harus kita teruskan. 

Suatu saat kelak, Ibu dan Bapak Guru dapat melakukan refleksi atas apa yang sudah dijalani sambil bersyukur bahwa di saat Indonesia sedang mengubah wajahnya menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih jujur, lebih cerdas, lebih kreatif, dan lebih cerah, Ibu dan Bapak Guru memegang peran penting. Kelak Ibu dan Bapak dapat berkata, "Saya di sana, saya terlibat. Sekecil apapun saya ikut mendidik generasi lebih baik. Saya ikut melahirkan generasi baru dan ikut berkontribusi membuat wajah Indonesia yang lebih cemerlang, dan membanggakan."

Selamat meneruskan pengabdian mulia, selamat menginspirasi, dan Selamat Hari Guru.

Salam hangat,

Timnas u-19 ternyata memang harapan yang terbaik...

piala aff akhirnya kembali digelar. dalam suasana terkini yang tanpa kisruh di pssi tim garuda utama diharapkan berkibar. bukan hanya karena kembalinya kekuatan utama timnas, tapi opa riedl telah jadi pembesut garuda untuk mengulang cerita manisnya empat tahun silam. 

dua laga sudah dan cerita saya sama. di laga pertama saya tak bisa menikmati babak pertama kala vietnam menjamu garuda. sebuah keperluan mengadang saya memantau. kini di laga keduapun saya kehilangan babak pertama karena baru tiba pukul 17.00 dan ternyata menit 51 adalah sajian di layar dengan posisi tim teringgal 0-1 dari filipina.
saya tahu kalau filipina kini sudah jadi kekuatan utama asia tenggara dari peringkat fifa. semua menuding filipina potong kompas dengan langkah naturalisasi. tapi timnas kini juga serupa. nama-nama terbaik walau tadinya bukan warga negara juga diberi kesempatan bila ingin.
singkatnya saya punya ekspektasi lebih mengingat nama van dijk akan berpadu dengan gonzales plus jaminan mutu boas di laga-laga terkini timnas. tak akan ada lagi kecewa karena skuad paspasan model dua tahun lalu di tim nilmaizar. tapi akhirnya saya harus kecewa. timnas tak hanya kalah plus nyaris terisngkir, tapi juga menanggung malu dibantai 0-4 leh tim yang dulunya jadi sarang gol kita. sungguh terlalu, timnasku tampak tak bermain dengan hatinya. jutaan kaki di negeri ini bersedia tampil mewakili merah putih di lapangan tadi, namun kalian yang terpilih seakan tak berusaha untuk sekadar bermain baik.
sepertinya pasukan sakit hati penuntut reformasi pssi berpesta atas hasil ini. kalau dua tahun silam banyak yang mengejek timnas senior karena hasil imbang dari laos yang dikatakan pemecahan rekor, kini rekor atas filipina juga pecah bahkan dengan 4 gol.
salam 4-0 akan jadi trending topic sepertinya.
kalau beberapa bulan silam banyak yang mengejek timnas u-19 atas kekalahan di piala asia, sepertinya kita bisa segera sadar kalau memang cuma itulah prestasi terbaik sepakbola nasional. hasil timnas senior ini bukti bahwa u-19 tetap yang terbaik. salam!

25 November 2014 at 18:05

Kebanggaan di Hari Guru...



Hari Guru...
Well tulisan ini rupanya gagal posting di FB saat saya menulisnya 25 November lalu.
Selasa (25/11) lalu saya tiba-tiba merasa penting meninggalkan sebuah cerita di akun medsos saya demi mendokumentasi hari yang lumayan istimewa ini.
Bukan karena guru yang jadi pekerjaan saya kini sedang diperingati negeri ini hari kelahiran organisasi profesinya saja. Tapi ada nilai tambah demi mendengar sebuah surat dari pak menteri.
Jokowi kini sudah jadi presiden dan Anies Baswedan kini ditunjuk sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru. Lalu bagaimana suasana baru ini? Suasana kala pembuat kebijakannya adalah orang-orang yang saya segani? Lumayan punya asa rupanya.
Adalah saat amanat pembina upacara pagi tadi jadi inti ceritanya. Di tengah-tengah riuhnya siswa yang mulai kehilangan konsentrasi kala pembina upacara terpaku pada surat menteri pendidikan yang dibacakan, sepercik embun seakan membasahi dahaga kebanggaan.
Surat dari pak menteri untuk guru seluruh indonesia itu sungguh memesona saya lewat jalinan kata yang terkesan hebat dan menyentuh. Tak banyak hal hiperbola yang disaji, namun sebagai guru saya merasa penting hari ini. Sejenak saya mengingat jalinan kata yang kongruen dengan bahasa pidato Jokowi di konser Salam Dua Jari kala kampanye itu. Sepertinya duga teman saya yang seorang editor surat kabar itu tak salah: pidato Jokowi itu tentu disusun Anies Baswedan yang sungguh santun bertutur.
Saya merasa dihormati kala surat yang dibaca Ibu kepala sekolah saya itu dibuka dengan ucapan terima kasih untuk semua guru di Indonesia. Dengan sadar Pak Menteri menyadari betapa banyak guru telah berbuat untuk bangsa ini.
Saya merasa guru jua dihargai saat sang menteri juga bertutur soal permohonan maaf karena negeri ini belum menempatkan guru di tempat yang seharusnya. Secara terbuka Anies menyadari kalau banyak hak guru yang belum dituntaskan negeri ini sejauh langkah yang terjalani.
Yang saya tahu tak pernah sebelumnya bahkan presiden yang baru berlalu itu mengucapkan secara santun pernyataan tadi dan lebih banyak menebar janji belaka yang tak pernah benar-benar terlaksana secara menyeluruh.
Saya bergetar kala pernyataan itu dibacakan: Pilihan Bapak/Ibu menjadi guru bukanlah sebuah pengabdian semata; tapi sebuah langkah terhormat sebagai membangun arah bangsa ini. Wew, hebat betul kami para guru yah.
Dan ketimbang janji manis, kata-kata ini lebih menbangun sepertinya: Potret negeri kita saat ini adalah buah pendidikan di masa lalu, maka potret bangsa kita masa depan adalah pendidikan kita di masa ini. Dengan kata lain, apa yang dibuat guru saat ini adalah masa depan negeri ini. Bangsa kita yang korup dan sebagainya karena masa lalu melazimkan hal itu, bila sebaliknya terjadi kini maka masa depan akan jauh dari hal itu.
Mungkin ini terasa muluk dan mengawang-awang, namun saya mendadak bangga menjadi seorang guru. Walau kami mungkin tak akan kaya raya secara materi, namun secara rohani kami adalah foktor penentu bangsa dan masa depannya.
Masih dikeriuhan siswa saya mulai berpikir, seru juga harapan di bawah arahan orang yang kita kagumi dan memang punya kapabilitas. Sepertinya saya mulai bangga pada menteri pendidikan kali ini layaknya respek saya pada orang-orang seperti Gus Dur, Antasari Azhar, Jokowi, dan Ahok. Memang saya sedang melamar satu posisi di kementerian Pak Anies, namun diterima atau tidaksaya kagum pada orang ini.
Setidaknya untuk saat ini saya merasa 10 tahun yang saya jalani sebagai guru tak percuma belaka. Walau belum jadi apa-apa, namun ternyata karya saya nyata (setidaknya murid-murid saya sudah jadi kepanjangan tangan saya untuk negeri ini). Tiba-tiba saya jadi nasionalis dan perasa....
Hari guru kemarin ini memang cukup melelahkan. Rangkaian lomba yang memeriahkan momen di sekolah kami sungguh menguras tenaga karena kami para guru harus terus menemani OSIS sebagai pengarah. Namun semua tak lepas begitu saja. Hari ini akan saya ingat lewat surat Pak Menteri dan tentu saja, gol untuk tim guru di lapangan futsal tadi J.