Selasa, 24 Januari 2012

Sebuah fragmen, mohon dikomentari.... (sengaja ngikutin Pak Irsyad demi kekentalan racikan).

Dor, dan benarlah. Seperti dugaku, tak sedikit pun mampu kukalahkan angkuh di hati ini, ketimbang kasih yang kuklaim begitu besar selama ini. Dia hadir, tapi dia tak terlalu penting untuk diapresiasi dengan damai. Dia jahat, itu tanamku seharusnya. Dia tak lagi perlu kita telaah sepositif sebelumnya. Asal tahu saja, yang kubutuh mungkin sudah kuurai, ia hadir dan itu sudah cukup.

Takkan pernah kusangka cerita ini kan sebegini ruwetnya, yang bila kuanalogikan sebagai benang kusut, mungkin takkan lagi dapat diluruskan atau diulir agar terpakai, mungkin lebih baik dibuang. Ibarat kaleng, tentu sudah reyok dan penyok di sana-sini. Entahlah, dengan semua itu, kenapa masih ada yang tersisa untuk cerita ini.

Yang pasti saat ini jari-jari ini menari-nari di atas keyboard laptop yang terbeli karena emosi, yang anehnya juga berhubungan dengan dia. Heran yah, kok bisa semua urai negatif yang tersaji di atas berjalan tak habis-habisnya. Sengaja kurekam dalam file ini mungkin untuk mengabadikan gundah ini. Aku masih belum habis pikir dengan “pilihannya” dulu dan mungkin sekarang. Aku sendiri takkan jua pernah mengerti dengan situasi sebagai “pilihannya” walau untuk sisi yang tak menguntungkan.

Friday, 22 May 2009 at 03:22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar