Dor, dan benarlah. Seperti dugaku, tak sedikit pun mampu kukalahkan
angkuh di hati ini, ketimbang kasih yang kuklaim begitu besar selama
ini. Dia hadir, tapi dia tak terlalu penting untuk diapresiasi dengan
damai. Dia jahat, itu tanamku seharusnya. Dia tak lagi perlu kita telaah
sepositif sebelumnya. Asal tahu saja, yang kubutuh mungkin sudah
kuurai, ia hadir dan itu sudah cukup.
Takkan pernah kusangka
cerita ini kan sebegini ruwetnya, yang bila kuanalogikan sebagai benang
kusut, mungkin takkan lagi dapat diluruskan atau diulir agar terpakai,
mungkin lebih baik dibuang. Ibarat kaleng, tentu sudah reyok dan penyok
di sana-sini. Entahlah, dengan semua itu, kenapa masih ada yang tersisa
untuk cerita ini.
Yang pasti saat ini jari-jari ini menari-nari
di atas keyboard laptop yang terbeli karena emosi, yang anehnya juga
berhubungan dengan dia. Heran yah, kok bisa semua urai negatif yang
tersaji di atas berjalan tak habis-habisnya. Sengaja kurekam dalam file
ini mungkin untuk mengabadikan gundah ini. Aku masih belum habis pikir
dengan “pilihannya” dulu dan mungkin sekarang. Aku sendiri takkan jua
pernah mengerti dengan situasi sebagai “pilihannya” walau untuk sisi
yang tak menguntungkan.
Friday, 22 May 2009 at 03:22
Tidak ada komentar:
Posting Komentar