ini bukan materi kuliah bahasa, juga bukannya lagi ngajar, tapi sesuatu mengusik tentang me- dan di- dalam hari2 ini.
selingkuh
atau afair bukan cerita baru buat kita, sudah begitu banyak cerita
selingkuh yang tersaji di seputar kita, bahkan sampai disajikan secara
fiktif namun menyentuh di tv melalui realityshow.
tapi, kenapa cerita
kali ini menohok hati? karena ini datang dari seorang kawan yang gw
pikir tadinya sempurna hidupnya. menohok dan getir karena ternyata dia
"di"-selingkuhi dan bukan "meN"-selingkuhi.
ternyata selama ini gw
lebih banyak mendengar, melihat, dan malah mencoba memahami cerita kawan
dan rekan yang jadi subjek pelaku dalam diatesis aktif perselingkuhan.
dan baru kali ini ditohok berita di mana subjeknya penderita, atau
mungkin beberapa kali tapi tak segetir kali ini.
gw gak akan nyalahin
siapa2, dan juga gak sedang ngajar orang tuk tak atau melakukan
selingkuh. gw hanya bingung coz ternyata selama ini lebih banyak jadi
penonton catur di warung kopi.
tahu penonton catur warung kopi?
kerjaanya membantu memberi jalan keluar yang anehnya kepada pihak yang
unggul, bukannya pada pihak yang terdesak.
selama ini kayaknya gw
lebih banyak larut dalam tawa pada saat teman dan rekan bercerita
tentang kesuksesan mereka berselingkuh, bahkan ikut tertawa dan lama2
menoleransinya. kacau!
harusnya gw bervisi jelas bahwa itu salah,
walau gak akan menghakimi mereka yang terlibat. harusnya gw berpikir
tentang mereka yang jadi subjek2 penderita, walau subjek2 pelaku yang
ajak bercerita. di- dan me- ternyata tak hanya jadi bahan ajar, itu juga
bahan bersandar pemahaman akan saji kenyataan.
cuma bisa berdoa tuk
semuanya untuk tak terlibat dengan kata "selingkuh", baik sebagai pelaku
maupun penderita. semoga damai segala yang ada.
jagalah anugerah yang ada!
sengaja ga bikin new notes, coz cerita ini masih sejenis. masih tentang diatesia subjek akti atau pasif.
kali ini cerita tentang mencintai dan dicintai. masih dengan kata dasar
yang sama. selalu ada makna memberi untuk diatesis aktif, yang berlaku sebaliknya bagi diatesis pasif.
memberi memang seafdolnya dengan tulus. tulus tentunya tanpa imbalan.
tapi, percayalah tulusnya manusia punya makna berbeda dengan tulus sang
pencipta.
selalu ada niat untuk resiprok (saling), walau dalam kadar
tak seibang, bahkan timpang sekalipun. dalam cinta bergenre eros, siapa
sih yang sungguh berdiatesis aktif namun bertuluskan wujud laksana sang
pencipta. kita mencinta karena ingin dicintai. yah.... seharusnya
memang seperti itu.
walau timpang, pun kadang diatesis aktif berlaku seolah wajar, bahkan bila 1 tera dibalas 1 nano.
namun sesekali ingin jua memaknai diatesis pasif yang begitu jumawa
memandang segala daya untuknya jadi minim bahkan nihil. selalu diatesis
pasif dalam cerita kisah kasih jadi yang pegang kendali, walau dalam
kesempatan lain ia akan berbalik memaknai diatesis aktif kala berganti
peran. gak terlalu berharap juga, namun ada baiknya subjek yang di-
memaknai dan mengapresiasi subjek yang me- dengan lebih teliti dan
objektif.
dalam kalimat transitif, sewajarnya bila diatesis berbalik
akan bermakna sama, kecuali dalam kalimat klasik bahan ajar para dosen
lingustik, terutama sintaksis:
"rangga inigin mencium cinta", karena maknanya lain dengan
"cinta ingin dicium rangga".
oke deh belajar bahasa pagi2 sambil mengapresiasi sedikit sisi hidup yang miris.
kata orang bijak sih, aktif lebih bermanfaat, karena lebih berpeluang.
so.... mari maknai semua dengan sewajarnya, dan kalau bisa seimbang dan
tidak timpang.
untuk sesaat rasanya seru untuk kombinasi keduanya, aktif untuk pasif.
seperti nasihat seorang teman, apa kabar dunia?
asyik meN-tunggu untuk di-ilhami.
Wednesday, 24 March 2010 at 12:43
Tidak ada komentar:
Posting Komentar