tersebutlah sebuah negeri aman bernama indonesia yang sejak berdirinya selalu dirongrong tikus kasat dan tak kasat mata.
di era awal politik dagang sapi menggema,ketika diganti era pendekar militan semua tak berubah.
rakyat yang marah mengerahkan pemuda tuk ganti suasana.
mulailah karut-marut baru bertajuk perubahan.dari punggawa yang ada terpilihlah seorang satria.
berwajahkan kesahajaan,berbalut korban penindasan,dan bersuarakan kelembutan tuk satu kata, membangun!
semua indah awalnya,semua seolah memesona.
tapi
tibalah saat itu,saat kepentingan penyandang dana mengatur sang
satria,saat punggawa khianat menggerogoti,saat yang ada tuk merusak tak
lagi tikus saja,tapi juga kutu loncat,ular,lintah,buaya,dan setan
demokrasi.
sang satria kini tak tampak membangun negeri,namun lebih pada membangun pembenaran atas diri dan punggawanya.
lupa ia akan tugas mulia,karena sekitar mengikatnya untuk tak setia.
waktunya kini tinggal setengah windu,tobat nanti setelah itu takkan berguna.
kucoba teriakkan dari ruang kelas tempatku mengajar,yang kupastikan takkan terdengar ke istana karena jauhnya.
"sudahlah
satria,cepatlah sadar,tak usah takut pada ikat kepentingan.segera
gantung tikus (walau kerabat),bakar hidup2 kutu loncat,segera tembak
mati ular2,babat habis lintah pengisap darah,dan potong kaki serta
tangan buaya juga setan demokrasi."
kami percaya kau tetap satria,hanya saja terbutakan kuasa,termabukkan anggur pesta pora,dan tergoda nikmat dijilati di dada.
bangun satria,atau kami cari daud untuk ganti saul sepertimu.
bangun indonesia lagi, cuma setengah windu....
Wednesday, 24 February 2010 at 08:55
Tidak ada komentar:
Posting Komentar